REFLEKSI HAJI MABRUR

H. Shohib
REFLEKSI HAJI MABRUR
(Studi Perbandingan Kesiapan Fisik dan Predikat Mabrur )

Oleh: H. Shohibul Wafa TA, S.HI

Ibadah Haji merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang mampu. Baik mampu secara finansial maupun fisik dan lainnya. Tetapi bagi mereka yang melakukan ibadah haji untuk yang kedua kali dan seterusnya adalah merupakan ibadah sunat atau haji tathawwu’.
Penulis yakin, dari seluruh jemaah calon haji yang berjumlah ratusan ribu apakah dapat dipastikan mereka adalah calon haji yang baru pertama kali melaksanakan ibadah haji ataukah mereka melaksanakan ibadah haji untuk yang kedua kali atau kesekian kalinya.
Baitullah atau Ka’bah yang Allah muliakan kedudukannya dalam Al Quran juga sebagai kiblat umat Islam berada di kota Makkah. Negara Arab Saudi dengan kondisi alam dan lingkungan yang berbeda dengan Indonesia. Hal ini perlu kita cermati bersama, karena sangat mempengaruhi kondisi kesehatan kita yang tidak terbiasa dengan kondisi alam dan lingkungan tersebut.
Kelembaban udara di Arab Saudi yang rendah ditambah dengan aktivitas kita yang tinggi dapat memudahkan terjadinya Dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) dan penurunan daya tahan tubuh bahkan timbulnya penyakit. Makan makanan yang bergizi dan sering minum merupakan solusi untuk mengatasi hal tersebut, disertai pemberian obat-obatan sebagai terapi sesuai dengan penyakit yang dialami.
Terlepas dari semua kendala di atas tadi, banyak penulis temukan tentang pengalaman seorang calon haji yang datang bercerita tentang sulitnya menunaikan ibadah haji apalagi yang terkait dengan do’a-do’a di Masy’aril Haram (tempat-tempat yang disyariatkan).
Seketika itu juga muncul di benak para calon jamaah yang secara sadar mereka katakan dan langsung mereka curhatkan, apakah saya yang tidak begitu pandai membaca do’a, lalu berhaji, sahkah Haji saya?
Saudaraku, salah satu di antara ke Maha Mengetahuinya Allah SWT adalah masalah haji. Haji merupakan ibadah yang betul-betul memerlukan kesiapan serta keutamaan fisik dan raga yang sehat untuk melaksanakan manasik Haji seperti yang ditauladankan Baginda Rasulullah saw. Beruntung memang bagi mereka yang saat berhaji fisiknya masih sehat dan kuat, hingga mereka mampu melakukan perjalanan manasik ibadah haji dengan sempurna. Namun sangat berbeda, bagi mereka yang fisiknya lemah lantraan sakit atau sudah lanjut usia dan lain sebagianya.
Tidak perlu merasa kecil hati, karena Allah SWT memberikan berbagai kemudahan bagi para Hujjaj. Seorang calon jamaah haji yg sakit, sah hajinya meskipun wukufnya tidak maksimal selepas matahari tergelincir. Kemudahan fasilitas dan sigapnya pelayanan yang disediakan oleh Khodimul Haramain yang berkoordinasi dengan para petugas haji Indonesia (Jeddah, Mekkah & Madinah) memberikan satu kemudahan bagi seluruh jamaah yang lemah fisik pada saat pelaksanaan haji.
Saudaraku para calon haji, kesempurnaan sehatnya badan juga harus di padukan dengan sehatnya hati. Orang bijak mengatakan “Hati yang sehat adalah cermin keindahan fisik; dan itu banyak terbukti. Banyak orang yang mempunyai fisik kuat tapi secara lahiriyah tidak dapat mengoptimalkan kesempatan yang diberikan Allah SWT sebagai “Wafdullah” (tamu-tamu Allah) di Mekah maupun Madinah dengan sebaik-baiknya.
Malah justru yang terjadi adalah sebaliknya, seorang nenek yang sudah lanjut usia, walau dengan tertatih-tatih dia melangkah diiringi dari kebeningan hatinya penuh semangat mengikuti rangkain ibadah haji secara maksimum, mulai dari Thawaf, perjalanan sa’I antara dua bukit Shofa dan Marwah, Tahallul, Wukuf di padang Arafah, melontar Jumroh (batu kerikil) juga menunaikan rukun lainnya dengan penuh kekhusyuan dan tawadlu’. Subhanallah!
Firman Allah SWT dalam Hadits Qudsi: “Aku cinta kepada orang tua yang rajin ibadah, tapi aku labih cinta kepada orang Muda yang rajin ibadah (Al Hadits)
Namun demikian, sebagai gambaran akhir dari pesan yang ingin penulis sampaikan melalui tulisan singkat ini, meminjam ungkapan Prof.Dr.H Nasaruddin Umar, MA: “Sulit mengukur haji mabrur, namun untuk itu harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Karena, ia tak bisa ditakar secara matematis, rasionalistis, tapi lebih ditentukan oleh value dan manifestasi serta aktualisasi diri dalam prilaku kehidupan sehari-hari”.
Semoga semua yang telah melaksanakan Ibadah Haji mendapatkan predikat Haji Mabrur. Dan semoga semua yang telah membantu terselenggaranya pelaksanaan Ibadah Haji baik secara langsung maupun tidak langsung mendapatkan kemudahan dalam segala urusannya serta mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SWT Amin.
Walllahu A’laam

Kota Pekanbaru, meng-awali pergantian hari (25 Juni 09) di keheningan Jl. Patimura No. 2, tepat Pukul 00.30 WS (Mecca….On The Way Insya Allah)

About these ads

~ oleh sekapursirihtravel pada Juni 24, 2009.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: