Arti Kemerdekaan

MENDAMBAKAN KEMERDEKAAN HAKIKI

Allah SWT berfirman: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. QS. Al Baqarah: 120
Sejak kebangkitan Nabi terakhir Muhammad SAW, konfrontrasi atau pertentangan diantara umat Islam dengan golongan Yahudi sudah berakar umbi sejak lama. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya berbagai serangan dan gangguan yang dilancarkan untuk menghancurkan pemikul ajaran Tauhid ini (baca: Islam). Namun Allah SWT memuliakan umat ini dengan nikmat Islam dan kemenangan terhadap golongan Yahudi.
Sudah banyak peristiwa-peristiwa terjadi yang berdampak buruk kepada tatanan moralitas (baca; akhlak) kaum Muslimin yang disebabkan praktek-praktek kotor Yahudi. Bisa kita lihat, misalnya dalam bidang perpolitikan baik skala Internasional atau bahkan kebijakan ekonomi, sosial serta perang budaya yang berimbas pada kebijakan nasional bangsa Indonesia tercinta ini.
Konspirasi Yahudi kerap mewarnai bahkan terus mencengkram dunia, sehingga berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan. Praktek-praktek diktator, nepotisme masih terwarisi. Setiap pergerakan menyinggung pemerintahan yang berkuasa oleh gerakan-gerakan atau organisasi-organisasi Islam, dianggap teroris, ekstrim, subversif atau istilah-istilah lainnya. Hal tersebut terjadi karena mereka merasa terancam, khawatir apabila umat Islam berkuasa kembali, trauma dengan masa silam yang kelam yang menimpa mereka.
Dari persoalan di atas, ada satu pelajaran (‘ibrah) bahwa harga mahal yang harus dibayar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari caplokan tangan penjajah tidak mesti selalu dinostalgiakan dengan gempita pesta poria kemerdekaan hanya karena ingin memperjuangkan simbolisasi identitas bangsa merdeka. Implikasi negatifnya, gerakan reformasi dalam mengisi arti dari perjuangan melawan kebathilan sehingga menjadi bangsa bermartabat semakin terhambat dan terasa nisbi, ruh kreativitas ijtihad bangsa semakin membeku lantaran intervensi pihak luar. Akhirnya kita terperosok dalam jurang yang sama meski mencoba bertahan hidup dengan bersimpuh di telapak kaki orang lain.
Semoga, momentum besar pesta rakyat Indonesia ini tidak kemudian membuat kita terlena oleh warisan para pendahulu. Sudah saatnya bangsa ini keluar dari kemelut itu, persatuan dan kesatuan khususnya umat Islam sebagi kekuatan mayoritas harus terbina selalu sebagai satu manivestasi berharga dalam mempertahankan stabilitas bangsa, hingga seluruh elemen masyarakat bisa merasakan nikmatnya kemerdekaan yang hakiki bukan ekspresi formalitas ritual basa-basi! Wallāhu A’lām Bisshawāb
Wassalam
Irfan J

~ oleh sekapursirihtravel pada Maret 16, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: