Bencana Alam

BENCANA ALAM; CERMIN KRISIS SPIRITUAL?
Oleh: Irfan Jauhari
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (الشورى:30)
“Dan apapun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri….”. (QS. Asy-Syuura: 30)
Apa yang Al Quran katakan tentang Tsunami di Aceh? Ada yang mengatakan tsunami sebagai hukuman (punishment), yang lain mengatakan musibah biasa meskipun dahsyat, dan ada juga yang mengatakan balabencana. Sampai timbul beberapa pertanyaan apakah ini sebuah azab, musibah, ataukah bala dari Tuhan penguasa alam. Fenomena bencana alam tidak hanya sebatas sebuah gejala alam, tetapi lebih dari itu ia bisa menjelaskan banyak hal tentang problematika lingkungan. Mulai nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan perbuatan tangan manusia, demikian Al-Quran menegaskan.
Akhir Desember tahun 2004 lalu, tepatnya hari minggu tanggal 26 Desember 2004, kita kembali tercengang menerima kenyataan pahit. Sebagian wilayah Indonesia, Malaysia, Thailand, Bangladesh, Sri Lanka, Maladewa, dan India diterpa bencana gempa dan gelombang tsunami yang sangat dahsyat. Yang lebih memilukan hati dan membuat kita semua semakin kelabu saat menyongsong tahun baru 2005 kemarin, sebagian wilayah Aceh dan Sumatera Utara yang paling porak-poranda diterjang bencana itu. Hampir semua pemukiman penduduk, gedung-gedung sekolah, pemerintahan daerah disapu rata dengan tanah. Sampai-sampai, korban yang jatuh pun hampir mencapai ratusan ribu jiwa. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Inilah yang mestinya kita renungkan.
Masih segar dalam ingatan kita. Memasuki tahun 2008 sekarang ini, kembali Tanah air kita tercinta mulai diguncang dengan berbagi musibah yang notabene adalah banjir yang mencaplok berbagai daerah pelosok di Indonesia. Mulai dari daerah pedesaan hingga perkotaaan atau yang sering disebut Kota Metropolitan pun tak luput dari genangan banjir, dan hampir malumpuhkan totalitas aktivitas masyarakat serta berbagai fasilitas umum hingga merambat ke areal perumahan rakyat.
Melihat realitas seperti ini, kita semua tidak berani menyalahkan diri kita masing-masing serta bertanggungjawab atas semua itu. Namun yang terjadi malah sebaliknya, saling menyalahkan bahkan membebankan kepada satu pihak tertentu (baca:aparat) kerap mewarnai siapa sebenarnya yang mesti bertanggungjawab atas semua kerusakan atau bencana alam ini?
Alam merupakan salah satu bagian dari konsep religius Islam. Karena itu, dalam perspektif Islam bencana alam sebenarnya memberikan otokritik bagi kita sebagai manusia beragama, sejauhmana nilai-nilai religius mewarnai kebijakan kita tentang lingkungan. Jangan-jangan selama ini kita terjebak dengan perhatian yang kurang terhadap alam, sehingga melahirkan kebijakan-kebijakan yang tidak ramah lingkungan yang berakibat pada perusakan (eksploitasi) alam secara tidak proporsional dan merusak keseimbangan ekosistem.
Dalam hal ini, wajar kalau Al-Gore, mantan Wakil Presiden Amerika, dalam buku Earth in the Balance: Ecology and the Human Spirit menyatakan, “Semakin dalam saya menggali akar krisis lingkungan yang melanda dunia, semakin mantap keyakinan saya bahwa krisis ini tidak lain adalah manifestasi nyata dari krisis spiritual kita”. Pada tahap inilah pernyataan Al-Gore di atas sangat menggugat dimensi terdalam dari kemanusiaan kita. Fenomena bencana alam sebenarnya manifestasi nyata dari krisis spiritual, demikian mengikuti bahasanya.

Apa kata Al-Qurantentang Alam?
Allah SWT menegaskan dalam firmanNya pada surat Al Baqarah ayat 22:
(الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَاداً وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ) (البقرة:22)
Artinya: Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui.

Alam beserta isinya, bumi, langit, tumbuhan, binatang, dan sebagainya, diciptakan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai karunia bagi manusia Konsekuensi dari itu, perusakan lingkungan di muka bumi ini sangat dimurka oleh-Nya. Pernyataan ayat ini pada hakekatnya menegaskan tentang amanah Tuhan bagi manusia mengenai lingkungan (alam).
‘Aisyah Abdurrahman (Bintusy-syathi’) menganggap bahwa adanya amanah ini menunjukkan kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi beserta implikasi hak dan kewajibannya . Dengan demikian, pemberdayaan dan pelestarian alam adalah realisasi dari amanah itu.
Memanfaatkan potensi alam dan melestarikannya semaksimal mungkin secara proporsional adalah kemestian yang wajar dilakukan manusia, agar dinamika hidupnya terus berjalan dan keseimbangan alam pun tetap terjaga. Ini menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara keduanya, satu sisi manusia memiliki hak dan kewajiban terhadap alam, sedangkan di sisi lain alam butuh keseimbangan ekosistem dan memberikan pelayanan bagi manusia.
Bahkan seorang ahli semantik Toshihiko Izutsu (seorang ahli semantik yang menaruh perhatian berat terhadap studi al-Qur’an) menganggap bahwa fenomena alam yang tampaknya begitu biasa bukan hanya fenomena alam belaka, tetapi juga manifestasi kebaikan Ilahi kepadanya, sebagai salah satu kondisi esensial atau lebih tepatnya langkah paling awal untuk mencapai keimanan sejati. Ini kenyataan yang sangat mendasar tentang Islam, sebagaimana diajarkan al-Quransendiri. Karena itu, menurutnya, kita hendaknya berterima kasih kepada-Nya untuk semua itu .
Hal yang senada juga diungkapkan oleh Quraish Shihab bahwa dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya merupakan apresiasi syukur dengan perbuatan, di samping ungkapan syukur dengan hati dan lidah . Syukur tidak hanya dimanifestasikan melalui ibadah-ibadah ritual, tetapi juga dengan mendayagunakan dan menjaga segala karunia-Nya secara baik dan benar. Dengan kata lain, konsekuensi logis dari pernyataan tersebut adalah rasionalisasi pemahaman “azab” dalam Q.S. Ibrahim: 7
(وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ) (ابراهيم:7) (jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah nikmat-Ku dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih).

Manusia; Faktor Utama
Fenomena bencana alam tidak hanya sebatas sebuah gejala alam, tetapi lebih dari itu ia bisa menjelaskan banyak hal tentang problematika lingkungan. Bencana alam sebenarnya menjelaskan segala masalah kebijakan kita terhadap lingkungan, sejak dari hal yang kecil sampai yang besar, dari tingkat individual sampai tingkat sosial, baik nasional, maupun internasional. Kerusakan habitat flora dan fauna, penggundulan hutan, pencemaran sungai dan laut, berkurangnya kawasan resapan air, dan penyempitan daerah aliran sungai merupakan beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya bencana alam dan sekaligus indikator dari problem kebijakan itu.
(ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ) (الروم:41)
Telah nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar kembali ke jalan yang benar (Q.S. Ar Ruum: 41).

Ayat al-Qur an ini memberikan peringatan bahwa apapun yang terjadi pada lingkungan semuanya kembali kepada manusia. Kemaslahatan atau kemadharatan yang ditimbulkan alam tergantung bagaimana manusia memperlakukannya. Begitupun dengan bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini. Masalahnya adalah human error, seringkali difaktori oleh manusia sendiri. Sebab, pada dasarnya semua ciptaan Tuhan itu tidak ada yang percuma.
(ِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) (آل عمران:191)
“Wahai Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci engkau, lindungilah kami dari siksa neraka” (Q.S. Ali Imran:191).
Alangkah lebih arif bila kita manusia menyadari bahwa dalam menentukan setiap kebijakan lingkungan semestinya selalu memegang sebuah prinsip yang secara tegas diterangkan al-Quran bahwa
( وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ)(النمل: 40)
“Barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri” (Q.S. An Naml: 40). Artinya, bahwa kita telah semakin jauh dari Firman-Nya.

Muhasabah; sebuah Solusi
Azab lebih banyak digunakan untuk menyatakan siksaan dan hukuman Tuhan terhadap orang-orang yang melampaui batas.. Sedangkan musibah dan bala lebih banyak digunakan untuk menyatakan ujian dan penderitaan kepada orang-orang, baik kepada para pendurhaka maupun kepada orang yang baik-baik.
Ibnu Taymiyah seperti dinukil Professor Ibrahim Khalifah dalam salah satu kajian Tafsirnya berpendapat bahwa sangat mungkin para nabi itu berkurang imannya bahkan murtad, walaupun pada kenyataannya hal tersebut tidak pernah ada dalam sejarah. Perkembangan kehidupan materialisme mampu menyingkirkan pemahaman-pemahaman “unik” tentang musibah tadi. Akhirnya, manusia sekarang ini pun telah lebih jauh menyederhanakan makna dan “falsafah” atas pengertian “musibah”.
Azab, mushibah, dan bala dalam al Quran memang ada. Azab yang merupakan siksaan yang ditujukan kepada umat-umat terdahulu yang melampaui batas, seperti umat Nabi Nuh yang keras kepala dan diwarnai berbagai kedlaliman yang diadzab dengan banjir besar dan mungkin gelombang tsunami pertama dalam sejarah umat manusia, sementara umat Nabi Syu’aib yang penuh dengan korupsi dan kecurangan ditimpakan kepada meraka gempa yang menggelegar dan mematikan; umat Nabi Shaleh yang kufur dan dilanda hedonisme dan cinta dunia yang berlebihan dan dimusnahkan dengan keganasan virus yang mewabah dan gempa.
Umat Nabi Luth yang dilanda kemaksiatan dan penyimpangan seksual yang dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat; penguasa Yaman, Raja Abraha, yang berusaha mengambil alih Ka’bah sebagai bagian dari ambisinya untuk memonopoli segala sumber ekonomi, juga dihancurkan dengan cara mengenaskan sebagaimana dilukiskan dalam surat al-Fiil (gajah). Dan masih banyak lagi hikayat umat-umat terdahulu yang mendapat siksa dari Allah SWT.
Realitas ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan mis-understanding seperti yang selama ini terjadi, khususnya yang berkenaan dengan Sifat Irodah (kehendak). Bagaimana pun, yang utama untuk diyakini oleh umat adalah bahwa Allah Swt tidak akan pernah berkehendak buruk kepada hamba-hamba-Nya.
Bentuk-bentuk itu hanyalah hal atau (kata-kata tidak senonoh) yang sudah barang tentu, rasional. Karena rumusannya adalah rasionalitas, maka segala macam manusia akan tunduk dalam hukum ini, yakni hukum alam. Walaupun segala bencana adalah rasional, namun Islam mensyariatkan kepada umatnya untuk ber-istirja’, yaitu ketika mendapatkan musibah segera mengucapkan Inna Lillahi wa Inna ilahi Raji’un, yang berarti “Sesungguhnya kami adalah milik Allah swt, dan hanya kepada-Nya-lah kami kembali”. Ucapan ini memang terlihat sederhana, namun ia memiliki makna yang sangat mendalam, yakni mengingatkan kita untuk senantiasa ber-Tauhid, ber-Qadha dan ber-Qadar.
Lantas, apa makna musibah banjir, gemba, serta Tsunami tersebut? Cut Putri terdiam matanya agak berkaca-kaca (gadis berdarah Aceh yang tengah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung, sebagai saksi mata pada detik-detik Tsunami 2004). ”Ini mungkin salah satu cara Allah menunjukkan kebesaran-Nya di depan mata dan hati kita,” Menurutnya dari musibah itu terlihat manusia tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT. Mungkin di balik ini ada satu rahasia besar. Mungkin kita belum tahu tapi sedikit demi sedikit insya Allah, Yang Mahakuasa akan memberi tahu.” pen
Akhirnya penulis mengajak kepada semua dengan menjadikan hal tersebut sebagai teguran sejarah atas segala kekurangan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang telah menyebabkan malapetaka dan kesengsaraan terhadap hidup kami di dunia maupun di akhirat “.
Apa yang menarik dari setiap kita memasuki newspirit adalah munculnya kesadaran baru dalam diri kita. Kesadaran akan beberapa hal, yaitu diantara: kesadaran bahwa diakui atau tidak usia kita telah berkurang. Sementara investasi pahala untuk simpanan di akhirat masih sangat tipis, dibanding nikmat-nikmat Allah yang setiap detik selalu mengalir. Tiada putus-putusnya.
Dari segi ini saja kita seharusnya merasa malu, di mana kita yang mengaku sebagai hamba Allah tetapi dalam banyak hal orientasi kita menkonsumsi nikmat-nikmat Allah dan lupa bersyukur kepadaNya, bahkan kita sering mengaktualisasikan diri kita sebagai hamba dunia. Kita masih saja lebih banyak sibuk menginvestasi kepentingan dunia dari pada investasi untuk akhirat. Semoga semangat untuk membangun kemegahan akhirat lebih kuat dari semangat untuk membangun kemegahan dunia.
Dengan demikian, adalah kesadaran yang benar jika dalam permualaan lembaran yang baru, kita umat Islam membangun tekad baru, untuk meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah dengan mengaktualisasikan diri menjadi hamba Allah baik itu dengan instrospeksi diri yang berkesinambungan (Continous Improvement) atau lainnya. Karena hanya dari tekad inilah segala krisis yang pernah kita lalui pada tahun-tahun sebelumnya akan bisa diatasi. Wallahu A’lam bisshawab

~ oleh sekapursirihtravel pada Maret 16, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: