Hadits Sebagai Sumber Agama Islam Bag.1

بسم الله الرحمن الرحيم
Hadits Sebagai Sumber Agama Islam
(Studi Analisis Tentang Korelasi Hadits Dengan Al Quran) Bag. 1
Oleh: Irfan Jauhari

A. BEBERAPA ISTILAH SEPUTAR HADITS
Beberapa istilah lain yang menunjukan penyebutan Hadits, seperti al-Sunnah, al-Khabar dan al-Atsar. Secara bahasa (etimologi) yaitu sbb: Al Hadits adalah al Jadid (baru), al Khabar (berita) dan al Qarib (dekat)
Al Khabar (Berita) فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ (الطور: 34)
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آَثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا (الكهف: 6)
Secara istilah (terminologi):
1. Ulama Hadits:
مَا أُضِيفَ إلَى النَبِي ص.م من قـولٍ أو فـعل ٍأو تـقريرٍ أو صـفةٍ
“Sesuatu yang disandarkan kepada nabi saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir*) maupun sifat. ”
*) Taqrir adalah perbuatan yang dilakukan oleh sahabat di hadapan Nabi Muhammad saw, dan beliau mengetahuinya. Nabi tidak ikut melakukan perbuatan tersebut, juga tidak melarang sahabat melakukannya.
2. Ahli Ushul Fiqh:
أقـوالُـه وأفـعالُـه وتقـريـرتُه التِي تـُثَبِتُ الأحـكامَ
“Segala perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi saw yang berkaitan dengan penetapan hokum”
As sunnah dalam pengertian bahasa (etimologi):
السيـرةُ والـطريقةُ المـعتادةُ حـسنةً كـانتْ أو قـبيحةً
“Jalan dan cara yang merupakan kebiasaan yang baik atau yang jelek”
سـُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّـذِينَ خَـلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَـنْ تَجِدَ لِسُنـَّةِ اللَّهِ تَبْدِيـلا (الأحزاب: 62)
“Sebagai sunah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” QS. Al Ahzab: 62
Al Khabar, secara bahasa berarti an Naba (berita) sedangkan al Atsar berarti pengaruh atau sisa sesuatu.
Secara istilah (terminologi) menurut jumhur ulama memiliki makna yang sama, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada nabi saw, sahabat dan tabi’in.
Perbedaan pendapat bahwa al Hadits sesuatu yang sandarannya Nabi saw, sedangkan as Sunnah sesuatu yang sandarannya tidak hanya Nabi saw, tetapi juga sahabat dan tabi’in.
B. KONDISI MASYARAKAT ARAB DI MASA RASULULLAH SAW
1. “Al ‘ummiyyun ” sebutan untuk komunitas orang Arab, mereka mayoritas tidak mengetahui baca tulis, cerita-cerita legendaris warisan para pendahulunya, seperti sya’ir, sajak dan lain sebagainya.
وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ (العنكبوت: 48)
“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu kitab pun, dan kamu tidak pernah menulis sesuatu kitab dengan tangan kananmu andaikata (kamu pernah membaca dan menulis) benar-benar ragulah orang yang mengingkarimu.” QS. Al Ankabut: 48
2. Nabi saw merintis forum-forum diskusi ilmiah, sebagai media tranformasi ilmiah keagamaan, beserta para sabahatNya, seperti halaqoh-halaqoh ilmiah secara bergantian dengan cukup dua materi kuliah Al Quran dan As Sunnah.
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ (الزمر: 9)
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” QS. Az Zumar: 9
C. KEBERADAAN SAHABAT DAN MASYARAKAT NABI
Klasifikasi kemampuan para sahabat dalam menerima dan memahami sebuah hadits dari nabi saw bagaikan bumi yang subur, dan bumi yang tandus.
(عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ ص.م قَالَ) مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَـقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَـادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِـيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلا تُنْبِتُ كَلأَ فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ. (صحيح مسلم ج4/ص1787)
Nabi saw bersabda, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras tidak menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. Ada pula hujan yang jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya.”
– HR. Muslim –
Pertama: permukaan bumi yang mampu menerima air menumbuhkan bermacam-macam tumbuh-tumbuhan yang subur.
Kelompok pertama : Istri Nabi Aisyah r.a, Ibnu Abbas r.a, Ibnu Mas’ud r.a, Ibnu Umar r.a sebagai penghafal hadits dan menelurkan ketetapan-ketapan hukum yang akurat dan kondisional dari teks-teks hadits.
Kedua: permukaan bumi yang tandus, hanya mampu menyimpan air, di atas permukaannya, dari sanalah masyarakat sekeliling mengambil air untuk keperluan hidupnya.
Kelompok kedua : Abu Hurairah r.a, Anas bin Malik r.a, Abu Sa’id Al Khudri r.a, dimana beliau-beliau telah mempunyai kelebihan mengumpulkan dan menghafal ribuan Hadits, namun kurang ada keberanian untuk berijtihad untuk menentukan ketentuan hukum pada permasalahan yang muncul.
Ketiga: permukaan bumi yang tandus tidak bisa menggenangkan air di atasnya, dan tidak mampu pula menumbuhkan jenis tumbuhan apapun.
Kelompok ketiga : Abu Lahab dan yang sealiran dengannya, dimana mereka tidak ada kesediaan untuk menerima petunjuk dari Nabi, dan tidak bisa memberikan kontribusi positif pada masyarakat sekitarnya. Wallahu A’laam Bishawaab/

~ oleh sekapursirihtravel pada Maret 16, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: