Hadits Sebagai Sumber Agama Islam Bag.2

بسم الله الرحمن الرحيم
Hadits Sebagai Sumber Agama Islam
(Studi Analisis Tentang Korelasi Hadits Dengan Al Quran) Bag. 2
Oleh: Irfan Jauhari

A. USAHA MENJAGA KEMURNIAN HADITS
Allah swt telah menjaga sunnah Nabi dari pemalsuan, sebagaimana Allah menjaga Al Quran dari pemalsuan. Diantara usaha dalam menjaga kemurnian hadits diataranya sbb:
1. Pada periode Rasulullah SAW
– Sahabat menenumi Rasulullah saw jika ragu-ragu menerima suatu riwayat dari sahabat lain.
– Mengkonfirmasi kevalidan hadits tersebut, barulah ia menerima dan mengamalkannya.
2. Para Periode Khulafa Ar Rasyidin (Abu Bakar As Shiddieq r,a, Umar Bin Khattab r.a, Utsman Bin Affan r.a)
– Tidak menerima hadits yang disampaikan oleh seseorang kecuali yang bersangkutan mampu mendatangkan saksi untuk memastikan kebenaran riwayat yang disampaikannya.
– Memberi ancaman akan memberi sanksi terhadap siapa saja yang meriwayatkan hadits jika tidak mendatangkan saksi
– Bersedia diambil sumpah atas kebenaran riwayat tersebut
3. Periode ulama Muhadditsin
a. Mengadakan penyeleksian hadits dari segi mata rantai sanadnya (pembawa berita) dan matannya (muatan berita)
b. Klasifikasi kualitas keilmuan dan ketaqwaan mata rantai sanad, seperti: Shahih, Hasan, Dlaif, dan Maudlu’ (palsu).
c. Klasifikasi dari segi mata rantai yang bersambung atau tidaknya kepada Nabi saw, seperti:
1. Musnad, Muttasil, dan Marfu’, yaitu yang bersambung sampai pada Nabi saw
2. Hadits Mauquf yaitu yang berhenti pada sahabat
3. Hadits Maqthu’ yaitu yang berhenti pada tabi’in
4. Hadits Muallaq yaitu yang terjadi terputusnya mata rantai sanad di permulaan satu dan lebih dari satu
5. Hadits Mu’dhal yaitu yang terputus mata rantai di tengah jalan dua ke atas berurutan
6. Hadits Munqathi’ yaitu yang terputus satu mata rantai sebelum tabi’in
7. Hadits Mursal yaitu yang terputus satu mata rantai setelah tabi’in
d. Klasifikasi dari segi membedakan jumlah para mata rantai sanad, seperti:
8. Hadits Al Ahad
9. Hadits Al Masyhur
10. Hadits Al ‘Aziz
11. Hadits Al Gharib
e. Klasifikasi dengan membukukan hadits-hadits Shahih, Hasan, Dla’if dan Maudlu’, seperti: Kumpulan hadits-hadits Shahih dsb.
“Perhatian Muhadditsin ketika menerima hadits adalah kualitas keilmuan mata rantai sanad pembawa hadits, sebelum mencermati matan (redaksi) hadits yang dibacakan”

B. PENULISAN HADITS (TADWIN)
Beberapa alasan mengapa pada tahun 100 H, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm (gubernur Madinah) supaya membukukan hadits-hadits Nabi, yaitu:
1. Hadits dalam penulisannya ketika itu kurang memperoleh perhatian seperti halnya Al Quran.
2. Beberapa sahabat memiliki catatan hadits-hadits Rasulullah saw dari hadits pernah mereka dengar dari Rasulullah saw.
3. Penulisan hadits dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi, karena tidak diperintahkan oleh Rasulullah saw.
4. Khawatir apabila hadits-hadits itu akan lenyap bersama lenyapnya para penghapalnya.

LANGKAH-LANGKAH YANG DILAKUKAN OLEH KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ:
1. Menyeleksi hadits-hadits yang diterima (maqbul) dan ditolak (mardud) dengan menggunakan metode sanad dan isnad*)
*) Metode yang digunakan untuk menguji sumber-sumber pembawa berita hadits (perawi) dengan mengetahui keadaan para perawi, riwayat hidupnya, kapan dan di mana ia hidup, kawan semasa, bagaimana daya tangkap dan ingatannya dan sebagainya, agar suatu periwayatan hadits dapat diketahui mana yang dapat diterima atau ditolak dan mana hadits yang sahih atau tidak, untuk diamalkan.
2. Kesinambungan proyek penulisan/pembukuan hadits seperti yang dilakukan:
a. Pemerintahan Bani Umayyah
b. Pemerintahan Bani Abbasiyah (Khalifah Am Ma’mun abad ke-3), sehingga kita mengenal nama-nama kitab seperti: AI Muwatha oleh imam Malik dll.
c. Pembukuan kemudian dilanjutkan secara lebih teliti oleh Imam-lmam ahli hadits, seperti Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, dll.

C. TIMBULNYA PEMALSUAN HADITS
Masalah timbul pasca terbunuhnya Khlaifah Utsman bin Affan r.a:
1. Tampilnya Ali bin Abi Thalib serta Muawiyah ingin memegang jabatan
2. Umat terpecah kepada tiga golongan, yaitu Syiah, Khawarij dan Jumhur.
3. Ta’ashub kelompok mengaku berada dalam pihak yang benar dan menuduh pihak lainnya salah.
4. Usaha pembelaan kelompok masing-masing dengan membuat hadits-hadits palsu.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk memberantas hadits palsu, diantaranya:
1. Menunjukan nama-nama dari oknum-oknum/golongan yang memalsukan hadits.
2. Menyusun kitab-kitab yang secara khusus menerangkan hadits-hadits palsu.
3. Membuat kaidah/patokan khusus serta menetapkan ciri-ciri hadits palsu.

D. EMPAT ORANG YANG HADISNYA TIDAK BOLEH DIAMBIL:
1. Orang yang kurang akal.
2. Orang yang mengikuti hawa nafsunya yang mengajak masyarakat untuk mengikuti hawa nafsunya.
3. Orang yang berdusta dalam pembicaraannya walaupun dia tidak berdusta kepada Rasul.
4. Orang yang tampaknya saleh dan beribadah apabila orang itu tidak mengetahui nilai-nilai hadis yang diriwayatkannya. Wallahu A’laam Bishawaab/

*) Dipresentasikan dalam Tarbiyah Ramadhan 1429 Kajian Studi Islam Ba’da Subuh

~ oleh sekapursirihtravel pada Maret 16, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: