Menyoal Hukum

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” QS. Al Maidah: 50
Sudah saatnya kita semua membuka mata lebar-lebar, terlebih kepada salah satu lingkaran merah yang sering menjadi topik pembicaraan negara-negara berkembang khususnya. Contoh kecilnya adalah negeri tercinta kita Indonesia, berulang kali bahkan dalam hitungan detik tindak kejahatan di meja hijau (persidangan) berulang terus dan telah merusak harkat dan martabat bangsa besar ini.
Cacat mental yang diderita para penegak hukum tidak dianggap penyakit kronis, menular dan berbisa, namun sudah dianggap hembusan angin sore belaka. Seperti hari-hari datang lalu iapun pergi. Berbagai kasus terungkap, namun selintas kasus itupun berhenti mogok di tengah jalan diterjang lajunya jumlah bilangan nol di belakang 1,2,3,4 dst.
Perlu kita sadari bersama, demi menyelamatkan paradigma masyarakat yang bersih dari provokasi dan kejumudan opini publik yang dilancarkan berbagai media. Sebetulnya siapakah yang sudah menodai bahkan mencoreng habis nama besar lembaga peradilan tertinggi Nasional kita ini?. Apakah mereka para pelaku kriminal yang berkerah putih yang pandai bersilat lidah dalam persidangan ataukah wong cilik yang mengibarkan pesan Ilahi (agama wahyu) yang sering dianggap semberono dan terkesan anarkis, lalu dicap telah menodai lahan suci peradilan?
Hal lainnya adalah, penegakan hukum seolah tidak bisa terlepas dari sentiment kekuatan politik. Sayang seribu kali sayang, kepentingan pribadi ataupun golongan demi mempertahankan tampuk pemerintahan yang berbuntut kisruh dimana-mana lebih berharga ketimbang terciptanya keadilan di mata masyarakat, bahkan terkesan adanya pihak ketiga sebagai Dalang utama dalam hajat menundukan kekuatan induk, yaitu sistem Ilahi yang Allah swt tawarkan sebagai solusi terbaik dari sistem peradilan manapun di dunia ini.
Dari berbagai persoalan di atas, tentunya kita bersama dituntut untuk bisa cermat dan tepat sasaran dalam menatap langkah mana yang akan kita ambil untuk menempuh satu wadah peradilan murni, bersih dan jujur dengan aturan-aturan yang layak dan pantas kita gunakan agar terciptanya “baldatun, thoyyibatun wa rabbun ghafuur”. Semoga!
Wallāhu A’lām Bisshawāb
Wassalam
Irfan J

~ oleh sekapursirihtravel pada Maret 16, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: