Pengusung Hedonisme

Sang Pengusung Hedonisme
Sekilas lalu dari perjalanan sejarah yang sudah mencap bahkan menjadi salah satu sebutan lain dari sebuah Negara yang pernah kaya dengan ilmuwannya atau dengan kekayaan sumber alamnya. Begitupun Negara kita pernah merasakan disebut sebagai Negara paling subur atau lebih tepatnya paru-paru dunia. Kitapun merasa bangga!
Namun sayang seribu kali sayang, sebutan itu tak bertahan lama dan seakan hilang oleh gelombang wacana “Global Warming”, lalu kemana deretan nama-nama hutan lindung yang pernah mengisi daftar kawasan hijau untuk meredakan kekhawatiran penduduk dunia. Tanpa disadari, kitalah yang telah merusak eksistensi populasi pertahanan tersebut.
Saat ini pula, kejayaan para pendatang dari Gujarat yang sering disebut sebagai pembawa ajaran Islam dahulu kala seakan terkikis habis oleh gelombang besar yang merasuk tulang belulang jantung pertahanan moral anak bangsa. Era Millenium, persaingan global ternyata sudah dirasakan dampaknya dalam merubah visi dan misi anak bangsa dalam mengisi perjuangan atau mengusung semangat Nasionalisme. Disadari ataupun tidak, generasi yang sering berteriak mengumandangkan nasionalisme justru malah sebaliknya, mereka seolah tak peduli terhadap dekadensi moral yang akan berdampak negative terhadap perkembangan bangsa Indonesia dan lambat laun rapuh dimakan ulat budaya “hedonism”. Bahkan para penikmat kekuasaan atau sering disebut para wakil rakyat ternyata diam seribu bahasa, tidak ada yang peduli mau bagaimana dan hendak kemana negara kita ini melangkah?
Sempat terpikir, kita sudah kembali ke zaman primitive. Berbagai fasilitas yang ada ternyata tidak menjadikan kita pintar, cermat dalam berpikir dewasa. Langkah yang kita ambil ternyata bertolak belakang dari kenyataan hidup di era teknologi super canggih, tradisi meniru atau ikut-ikutan budaya luar tanpa berpikir dan melakkukan filterisasi budaya sudah jadi makanan sehari-hari para generasi muda sekarang. Sampai akhirnya, budaya satu hedonism jadi satu kebanggan tersendiri bahwa kita sudah menjadi bagian dari dunia internasional. Hanya dengan dua helai kain seadanya yang menempel pada lekukan tubuh, seorang wanita akan disebut professional dalam bekerja atau diakui oleh dunia sebagai wanita modern.
Mesti kita renungkan bersama, standarisasi tersebut diatas sangatlah merugikan dan bahkan sangat diskriminatif dan tidak akan membawa manfaat untuk semua kalangan, hal tersebut hanya berguna bagi kalangan tertentu saja, dan Islam sangatlah tidak setuju pada sesuatu yang tidak adil.
Ajaran Islam datang dengan hikmah yang terkandung dalam semua anjuran hukumnya.

Semoga!
Wallāhu A’lām Bisshawāb
Wassalam
Irfan J

~ oleh sekapursirihtravel pada Maret 16, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: