Semua bicara tentang Pemilu

Bismillahirrahmaanirrahiem

Indonesia, Bumi Pertiwi yang kita cintai, kita bangun, kita rawat dan kita pertahankan atas segala isi baik budaya maupun sumber dayanya. Sudah lama kita merasakan manisnya buah karya para pejuang para leluhur kita, mereka yang mengikhlaskan diri untuk merebut kembali kepatriotisan harga diri anak bangsa yang pernah terjajah dulu. Kita yakini bersama, semua itu berangkat dan semua itu berhasil seperti tercantum dalam kandungan isi Pembukaan Undang-undang 1945, yaitu atas berkat Rahmat Allah swt yang maha Kuasa negeri tercinta ini terbebas dari belenggu penistaan para penjajah.
Saat ini, sudah tidak ada waktu lagi rasanya kita semua untuk bernostalgiakan aroma kemerdekaan, tentunya bagaimana kemudia kita semua mempertahankan serta mengisinya dengan hal-hal yang positif. Dari Sabang sampai Merauke, kedaulatan NKRI harus dibayar mahal dengan perjuangan yang maksimal dan bertanggungjawab. Jangan memandang sebelah mata, kesatuan dan persatuan NKRI adalah merupakan bagian penting dari sebuah perwujudan dan cita-cita luhur para pejuang yang harus kita eja serta kita terjemahkan luas dalam kehidupan bernegara ini.
Di saat yang sama, genderang Pemilu dengan seabreg wacana, opini, janji serta beberapa aksi-aksi yang hampir membuat bingung rakyat kecil di berbagai pelosok desa. Kalau kita analogikan sedikit ke zaman dahulu masa penjajahan, kalau kita mengenal orang Belanda pernah memberikan statment tentang larangan mengkonsumsi ikan bagi warga negara Indonesia.
Mengapa demikian, hanya karena mereka takut bangsa yang bersahaja ini, akan berubah menjadi Dinosaurus yang bangun dari tidurnya. Berubah menjadi srigala jadi-jadian, dan akan merusaka semua perencanaan busuk mereka. Bukan kita berburung sangka demikian, tapi begitulah alasan mereka mengeluarkan ketentuan tersebut.
Hal sama kita lihat bersama, nampaknya kita dihadapkan dalam keadaan yang sangat sulit, bagaimana kondisi riil yang terjadi di tengah masyarakat kita baik di kota maupun desa bahkan di pelosok kampung yang sangat tertinggal. Baru baru ini dimunculkan kembali oleh Pemerintah satu jurus jitu untuk mengomando mengarahkan semua warga untuk ikut andil dalam pencontrengan ala berDemokrasi.
Disadari ataupun tidak, setidaknya kita jangan berburuk sangka dengan ketentuan yang kiranya sudah dibahas secara matang oleh para petinggi politik atau para pemegang policy negara ini.
Memang benar, kita sudah mendekati satu zaman multidimensional, dimana zaman yang beraroma persaingan bebas, persaingan yang berujung kepada siapa yang lemah dialah yang akan merugi selamanya. Proses pembentukan karakter, pembekalan mental serta pembekalan intelegensi dari para Ulil Amri negeri ini seakan begitu dipaksakan. Pada era Soeharto saja, yang kita kenal dengan zaman kediktatoran, dimana program andalan Belajar 9 tahun menjadi acuan pemerintah dalam mengembangkan tingkat kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang lebih baik.
Kalau kita singgung sedikit, dan kita bandingkan dengan zaman yang disebut dengan zaman perubahan dari berbagai aspek yang sudah mendapat beberapa penghargaan Nasional bahkan Internasional bahwa Indonesia adalah negara yang paling BerDemokrasi. Tetapi, kita lihat sedikit mengapa sampai saat ini untuk kategori CONTRENG saja, pihak pemerintah harus mengeluarkan kocek Budgetnya untuk bersosialisasi demi kepentingan sehari. Sangat disayangkan memang, tapi itulah keadaannya sekarang. hampir tidak ada satu langkah, satu formulasi lengkap dalam program jangka pajang yang diterapkan selama jabatan 5 tahun itu dianugerahkan kepada seorang pemimpin untuk membuat langkah terapi dalam membuat lubang solusi agar warga Indonesia bisa keluar dari kejumudan dalam ketertinggalan.
Semoga

~ oleh sekapursirihtravel pada Maret 23, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: