BERBEKAL TAKWA, GAPAI KEMABRURAN

H. Shohib
H. Shohibul Wafa TA, S.HI

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”.
QS. al-Baqarah : 197

Siapapun orang, tentu merasa bahagia apabila dapat memenuhi panggilan Rabbul Ka’bah menjalani rukun Islam kelima. Kenapa tidak, selain ibadah hal ini merupakan “warisan” Nabi Ibrahiem as, juga merupakan satu momentum yang sangat penting untuk meningkatkan rasa kepekaan sosial dalam bermasyarakat secara luas.

Tidak ada ungkapan yang paling indah di saat gerbang ke tanah suci di pelupuk mata, kalimat takbir, tahlil dan tahmid terus berkumandang. Meskipun saat ini kita masih di Tanah Air, tapi aroma ka’bah serasa dekat di hati, Allahu Akbar…keni’matan ini hanya dapat di rasakan oleh orang-orang yang beriman yang di janjikan Allah Surga sebagai imbalan. LABBAIK ALLOHUMMA LABBAIK, LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WAN NI’MATA LAKA WAL MULK LAA SYARIIKA LAK…Kalimat talbiyahpun jika diingat menggetarkan qalbu, dan bagaimana jika kalimat ini dibacakan disaat kondisi kita berihram??, bagi yang laki-laki hanya mengenakan 2 (dua) helai kain putih tak berjahit, dan pakain takwa bagi yang perempuan.

YA ALLAH AKU DATANG MEMENUHI PANGGILANMU, SEGALA PUJI, KENIKMATAN DAN KEKUASAAN ADALAH MILIKMU, sebuah kesadaran seorang hamba di saat menghadap TuanNya, tidak ada daya dan upaya melainkan atas kehendakNya. Ke tanah suci yang di gambarkan oleh Rasulullah SAW adalah memenuhi undangan Allah, dan alhamdulillah kita termasuk dalam kelompok yang di undang olehNya. Dalam hal ini perlu sama-sama kita perhatikan hal sebagai berikut :

Saudaraku para calon tetamu Allah, ketahuilah bahwasannya Allah SWT tidak melihat kita dari kondisi fisik, rupa, dan pakain, akan tetapi Allah SWT melihat bagaimana hati kita?? Sudahkah kita bersihkan?? Sebagai tamu Allah, kita di minta oleh-Nya untuk membekali diri dengan ketakwaan, Allah tidak melihat berapa besar materi yang kita keluarkan, juga tidak melihat berapa besar bekal belanja yang kita bawa, lagi-lagi bekal takwa adalah sebaik-baik bekal.

Kalau kita perhatikan serta bandingkan dengan pergi jalan ke Bali, Bangkok, Singapura atau lainnya misalkan, jika tidak membawa perbekalan (materi) cukup mungkin kita akan merasa risih dengan yang lainnya karena semua sibuk menikmati wisatanya dengan belanja, relax, dll. Akan tetapi, berbeda dengan pergi ke Tanah Suci, kita akan malu dengan diri kita dan yang mengundang kita, Allah SWT, jika volume ibadah kita di sana biasa-biasa saja. Padahal panggilan ini bukanlah panggilan biasa, panggilan ini adalah panggilan yang dapat membawa kita menuju surga yang kekal, dan bagi kita yang banyak dosa, ingatlah rahmat Allah sangatlah luas,maka carilah rahmat dan ampunanNya selama kita berada di sana.

Ketika menunaikan ibadah haji, syetan malas datang menghampiri, dan kita lalai di buatnya. Tidak jarang kita saksikan para hujjaj berleha-leha di sekitar pemondokannya, bahkan ada sama sekali yang terlena sehingga sibuk dengan urusan dunia. Saudaraku ingatlah, bahwa kita adalah duta Allah, jika kita minta apapun kepada-Nya Dia akan berikan dan jika kita minta ampunan kepada-Nya maka dengan rahmat-Nya dosa kita yang seluas lautan dan setinggi gunung himalaya akan bersih terhapuskan. Maka aneh jika masih ada yang menyia-nyiakan kesempatan emas selama berada di Mekah.

Terkadang, saking malasnya kita malas datang ke Harom (istilah Masjidil Harom di Arab Saudi), kita sama-samakan keutamaan masjid di sekitar sana dengan harom, padahal saudaraku, Rasulullah SAW jelas bersabda : “Shalat di masjidku lebih baik dari shalat di tempat lainnya kecuali di Masjidil Harom”, Masjidil Harom, namanya harum di dalam al Quran, keistimewaannya 100 ribu kali lipat. Shalatnya mendapatkan 40 rahmat, Thowaf di dalamnya dengan mengitari Ka’bah mendapatkan 60 kebaikan, santainya kita dengan memandangi Ka’bah mendapatkan 20 rahmat, 120 rahmat genap kita raih selama kita berada didalamnya. Kembali kepada Takwa, pantaslah jauh-jauh hari pesan ini di kuatkan, karena ternyata di sana kita masih menghadapi godaan yang maha dahsyat. Ketika Rasul SAW baru selesai berperang dari uhud, beliau bersabda : “kita baru saja kembali dari perang kecil dan akan menghadapi perang basar”, dan para sahabatpun bertanya :”perang apa itu ya Rasul”, beliau menjawab : “berperang melawan hawa nafsu”. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, ternyata aku masih harus banyak belajar menjadi hamba yang pandai bersyukur (Abdan Syakura).”Rabbi, hiasi hati kami dengan iman”.

Penulis Adalah Direktur Utama Sekapur Sirih Tour & Travel

~ oleh sekapursirihtravel pada Juni 13, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: