Balimau Kasai, Asimilasi Tradisi dan Syari’at

H Shohibul WafaOleh : Ust. H. Shohibul Wafa, TA

Rasulullah SAW bersabda : “Siapa yang senang dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu”. Subhanallah, begitu istimewanya Ramadhan, sehingga magfiroh (ampunan) Tuhan janjikan melalui lisan kekasih-Nya Nabi Muhammad SAW, bukan hanya itu….dalam minggu yang lalu saya katakan, bahwa keistimewaan lainnya adalah kesetaraan dengan orang yang berhaji bersama Rasul, ganjaran bagi mereka yang datang berumroh di bulan suci Ramadhan.
Hari ini, di penghujung bulan Sya’ban, seluruh anak manusia yang beriman bersuka cita bak menyambut pengantin yang akan datang, bukan hanya tua, muda, kecil pun ikut membaur dalam kebahagiaan. Ungkapan kegembiraan menyambut datangnya pengantin yang bernama Ramadhan di ekspresikan dalam segala bentuk. Di Riau misalnya, di salah satu kabupaten yang mendapat julukan serambi Mekkah, Kampar, bersuka cita menyambut datangnya bulan suci Ramadhan bersama family, jiron dan muslim lainnya dalam satu acara istimewa yang di kenal dengan Balimau Kasai. Hal inilah yang menjadi bahan pertanyaan sebagian masyarakat, tradisi atau syara’??
Dilihat dari sejarahnya, balimau memiliki makna yang sangat positip, yaitu sarana menyambung silaturahim. Tua, muda, kecil dan besar berkumpul dan bersua memeriahkan acara yang sudah menjadi tradisi masyarakat. Dalam konsep fiqih kita mengenal istilah “almuhafadzotu ‘alaa qodiimis sholih, wal akhdzu dil jadiidil aslah”, “memelihara tradisi yang baik, dan mengadopsi budaya baru yang lebih baik”, istilah balimau kasai dimasa lalu padat dengan nilai syara’. Nilai dan moralitas menjadi junjungan, tidak ada ikhtilat antara laki-laki dan perempuan, bahkan berkesan acaranya orang laki-laki di sungai di sore hari menyambut datangnya bulan suci ramadhan. Selain itu, tradisi mandi di sungai adalah tradisi harian masyarakat yang memang di zaman itu belum mengenal MCK permanen di dalam satu bangunan tempat tinggal, konsepnya masih lama, yaitu membangun MCK di luar rumah, bahkan masih banyak yang kita dapati mereka yang bersuci dipinggiran sungai. Zaman terus berubah, MCK pun mulai di kenalkan, sehingga tidak ada lagi atau mungkin jarang saat ini orang-orang yang tidak memiliki MCK permanen didalam bangunan rumahnya, bahkan saat ini lebih moderen lagi, setiap ruang tidur terdapat tempat bagi kita untuk melaksanakan TAHARAH, bersuci. Tentu peralihan tempat, dari mandi di kali menjadi mandi di rumah adalah peralihan tradisi dari yang baik menjadi lebih baik. Dengan adanya bangunan permanen yang lebih terjaga, tentunya akan menjaga pula diri kita dari hal-hal yang menimbulkan fitnah dan kemaksiatan.
Balimau kasai saat ini seharusnya menjadi lebih baik, sesuai dengan tuntunan syari’at (norma agama) kita. Tapi realitas yang nampak hari ini sebaliknya, suka cita menyambut Ramadhan yang kita demonstrasikan berbentuk tidak lebih kurang dari perbuatan orang-orang di zaman Jahiliyah dulu, tidak ada norma dan sandi positif, laki dan perempuan yang bukan muhrim membaur dalam tempat yang tidak dipisahkan. Bahkan ada kegiatan balimau yang seolah mendapat restu dari penguasa dengan cara yang tidak syar’i. Mari kembali kita lihat hukum positipnya, balimau kasai adalah sarana silaturahmi, sarana suka cita menyambut datangnya bulan suci ramadhan, subhanallah, indahnya budaya ini, budaya syar’I yang di dalamnya ampunan, umur yang di berkahi, dan bertambahnya rezeki, sebuah momentum yang terus harus dapat dijaga. Dan tentunya, harus mendapatkan tempat dan porsi yang lebih baik, sehingga siapapun nyaman menjalaninya.
Sebagian kelompok berpendapat, balimau kasai adalah perpaduan tradisi hindu dan islam….saudaraku, asimilasi semacam itu tentu sangat berbeda dengan semangat kita dalam menyambut ramadhan. Sama halnya dengan puasa asyura, orang yahudi merayakannya dengan puasa satu hari menjelang hari asyura, tapi nabi membedakannya dengan puasa dua hari bagi seorang muslim. Kita ini adalah ‘khoiral ummah’, dari nabi yang menjadi penutup para nabi. Apresiaisi kita dalam menyambut ramadhan yang di ekspresikan dengan balimau harus di iring dengan saling memaafkan, dan tentunya tentunya dalam balimau itu sendiri ini beberapa point yang harus di perhatikan oleh semua pihak, 1. tidak ada wanita berbalimau dalam konteks hari ini, kalaupun mau berbalimau, sebaiknya dilakukan di rumah masing-masing. 2. Balimau bukan hanya symbol toharotul abdan dalam menyambut bulan suci ramadhan, tapi jadikan sarana ini sebagai toharotul qulub (membersihkan hati) dari segala penyakit. “Allah cinta kepada orang yang bertaubat(membersihkan hati dari dosa) dan Allah cinta kepada orang yang mensucikan diri (dari hadas kecil dan besar)”. Akhirnya atas nama pribadi dan Pimpinan Pondok Pesantren Assalam, Desa Naga Beralih Kab. Kampar, dan Pimpinan Sekapur Sirih Tour&Travel saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, semoga kita dapat menjalaninya dengan penuh keimanan dan kewaspadaan. Jaga hati, karena itulah kunci kita berpuasa.

~ oleh sekapursirihtravel pada Oktober 28, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: