1001 Pertanyaan?

Irfan
Kisah-kisah zaman dulu, atau bisa kita mulai dengan babak perjalanan kisah para utusan Allah SWT dengan sejumlah para Anbiya dan Rosulnya mengemban tugas menjalankan amanat sebagai pembawa kabar berita.sebut saja satu kisah yang Allah firmankan dalam sejarah Nabi Ibrahiem ketika beranjak dewasa dan menyibukan dirinya dengan berusaha mencari jati diri, bahkan dia berusaha memikirkan hal-hal yang tidak terpikir oleh orang lain ketika itu. Memang benar, Nabi Ibrahim dilahirkan di lingkungan keluarga yang dalam sejarah digambarkan bagaimana perhelatan sengit Nabi Ibrahim berdebat dengan ayah kandungnya.
Bagaimana mungkin kita menyembah satu bongkah batu yang batu tersebut kita sendiri yang membuatnya, bagaimana tidak menmbuat Ibrahim penasaran apa yang terjadi ketika itu. Kalaulah memang ada yang lebeih pantas untuk diibadahi atau disembah menurut mereka, kenapa harus patung? Bukankah dia juga akan bernasib sama dengan kita, bahkan lebih parah lagi dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.
Sampai suatu saat, rasa kepenasaran Ibrahim a.s akhirnya terjawab sedikit demi sedikit seiring dengan berjalan dan bergantinya siang dan malam. Dilihatnya Bulan diwaktu malam yang bersinar, mugkin inilah sembahan saya…. lama kemudian bulanpun hilang berganti dengan siang, lalu munculah sinar terang yang lebih besar, mungkin inilah sembahan yang paling besar. Lalu iapun menghilang.
Lama berpikir, tentang fenomena yang terjadi dari awal datangnya bulan kemudian hilang berganti matahari kemudian hilang kembali dan begitu seterusnya…..!
Titik nadzir dari munculnya sikap sebagai pancaran rasa ketauhidan seorang Ibrahiem as hingga meyakini bahwa ada Sang Pengusa di balik rencana besar ini, Dia adalah Allah swt.
Sejenak kita berbenah, melihat karakteristik yang ideal dan sering dimunculkan sebagai bahan comparatif dari klasifikasi kelas ataupun status sosial kemasyarakatan pada zaman sekarang ini.
Seringkali kita disudutkan pada bentuk ritual formalitas semata dari beberapa agenda yang diwujudkan sebagai pelipur lara menghidupkan tradisi.
Kisah nabi Ibrahim tadi, setidaknya bisa kita cerna sebagai balancing power dari seabreg pertanyaan yang sering muncul sebagai wujud kesetaraan status kita, kemandirian jabatan, kenikmatan lifestyle, nikmatnya hidup bila berada dalam garis kewajaran status di masyarakat dsb.
Selintas, betul memang semua orang mempunyai cita meraih kesuksesan mendapatkan Rusa buruannya, berhasil membawa citra baik seseorang, berhasil menghadapi tantangan hidup dengan bekerja dan bekerja semaksimal mungkin.
satu yang menjadi rasa kepenasaran penulis, sampai batas manakah kita harus menjadikan posisi kita harus berada dalam garis utama, memang haruskan kita berada luhur dalam kisaran tahta, harta. Sebagus apakah, sepinter siapakah anak kita, seromatis siapakah pasangan kita, seganteng siapakan calon pasangan kita, sehebat apakah calon pemimpin kita…..?
bersambung…

~ oleh sekapursirihtravel pada Oktober 29, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: