Menyoal Langkah Menuju Parlemen

Irfan JSalam Hangat, Bonjour!

Senang rasanya bisa berbagi cerita, ngobrol kesana kemari, Ngaler Ngidul, sekalian tukar pikiran, jejak pendapat dan tentunya dengan satu alasan kita semua berangkat dari Referensi yang valid alias Sohih secara mutawatir. Memang sudah kenyataan, Negara tercinta ini hidup dalam kurun waktu yang penuh dengan lika-liku demokrasi, baik itu beraroma ke Nasionalisan, Kereligiusan bahkan Kemunafikan bagi oknum-oknum tertentu.
Kiranya kita menyadari betul, apa saja langkah-langkah yang ditawarkan hidup ber Demokrasi. dan itulah yang mesti kita renungkan bersama definisi serta aplikasi demokrasi dalam kehidupan bernegara, format demokrasi mana yang akan kita bentuk, karena begitu banyak negara yang sudah mengenal kata demokrasi, justru kondisinya lebih mengenaskan daripada kenyataan yang terjadi di negara kita.
Dari fragmen tadi, sekiranya kita musti berbaik sangka sebentar terhadap nama yang masih fiktif apa itu Demokrasi kaitannya dengan integrasi Kesatuan Negara Indonesia. Mengapa harus Demokrasi yang menjadi referensi kita semua? bukan kah kita sudah bisa menyatakan negara yang sudah lama merdeka.
Tidak perlu berandai-andai untuk sekarang ini, sejauh ini kita belum melihat dari gerak-gerik para elit politik kita, dalam mengejawantahkan apa itu demokrasi, pada kenyataannya ruang bebas ketika kita dihadapkan dalam dunia Ijtihad untuk berjuang atau berkecimpung dalam urusan dunia dengan mengambil cara mengikutsertakan kita untuk bergelut dalam pesta demokrasi.
Memang sah-sah saja, namun perlu diingat spectrum Dakwah dengan niat atau Moto “Menjadikan DPR lebih baik” kiranya tidak dipublish lantaran kita sudah punya kekuatan ijtihad dalam berpartai. coba kita pikirkan kembali, berjuang untuk memberi kemaslahatan tidak saja dengan mengambil alih komando dalam hidup bermasyarakat, tapi kemudian bagaimana langkah real supaya setiap pribadi kita mempunyai tanggungjawab untuk memperbaiki keadaan. sehingga tidak ada wacana, seolah-olah orang yang selama ini duduk dalam kursi yang bermandikan rupiah bahkan dolar adalah orang-orang yang tidak layak kita teladani.
Berat memang, menjaga prasangka baik terhadap seseorang, tetapi mari bersama meluaskan kembali jalan dakwah, dan tidak terpaku dalam kehidupan berdemokrasi, penulis takut ketika kita gagal menembus tembok raksasa yang bertulikan GEDUNG DPR-MPR, sejak itu juga langkah dakwah kita terhenti.
Tentunya, banyak cara yang bisa menjadi alterantif untuk membangun negara ini jadi lebih baik. Bukan saja dengan berpartai, lantas kita menjudgment bahwa kehidupan, kesejahteraan rakyat akan menjadi lebih baik.
Lebih dari itu, ada sedikit kekhawatiran karena kita sudah terlalu candu dengan partai, sudah rindu sekali dengan partai, sudah merasa yakin bahwa dengan berpartailah dengan berdemokrasi lah, dengan menembus DPR RI lah, bahwa hidup kita akan lebih baik.
Saya hanya berharap, teruskan niat baik kita untuk Amr Makruf Nahyi Munkar….., teruskan demi keoptimisan perjuangan dalam membela kebenaran, yakin bahwa kebenaran akan bersinar kembali, yakin bahwa Kekuatan Allah senantiasa terus melindungi orang-orang yang hidup dalam kebersamaan. Semoga, aroma pesta demokrasi ini tidak menjadi satu lantaran kita bercerai berai, kita saling mencemooh satu sama lain, mari kita bangun moralitas dalam hidup bersosial, baik itu dalam berdemokrasi maupun dalam hal lainnya.
akhirnya, penulis kembalkan segala urusan kepada Allah swt Yang Maha Tahu dan Maha Melihat.

Wallahu A’laam
Al Faqiiier ila Allah
ifan_thea@yahoo.com (YM)
Pekanbaru, 06 April 2009 – 07.17 – menikmati pagi nan cerah menunggu rintik hujan reda yang menyegarkan aroma pagi Kota Pekanbaru!

~ oleh sekapursirihtravel pada Oktober 29, 2009.

 
%d blogger menyukai ini: